Kades Hu’u Bantah Bagi-bagi Tanah.
Hu’u – Isu bagi-bagi tanah yang dituduhkan kepada Kepala Desa Hu’u, menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat Kecamatan Hu’u lebih-lebi Masyarakat Desa Hu’u sendiri, isu inipun bahkan menyeret nama Camat Hu’u M. Yasin, S.Sos.MM yang dilaporkan warga setempat pernah memungut uang sebesar Rp. 300 ribu rupiah/KK, kabarnya uang itu akan digunakan untuk membuat sppt tanah yang telah dibagi-bagi tersebut, namun isu ini dibantah oleh Kepala Desa Hu’u.
Kepala Desa Hu’u Masiah Wati, S.Ag yang ditemui Koran Pagi dirumahnya (23/09/2011) kemarin membenarkan adanya isu yang menuduh dirinya telah membagi-bagi tanah, namun saat dikonfirmasi terkait isu itu dia membatah telah membagi-bagi tanah tersebut, dia mengtakan sampai saat ini dirinya tidak pernah membagi-bagi tanah kepada siapapun seperti yang diisukan, apalagi tanah yang berada didalam kawasan hutan, diapun membantah telah meminta sejumlah uang kepada masyarakat Hu’u. “Informasi itu tidak benar, saya tidak pernah membagi-bagi tanah kepada siapapun karena itu bukan wewenang saya, apalagi berada di dalam kawasan hutan”
Ditempat yang sama Mantan Kades Hu’u Suami Kades Hu’u Sekarang red Muhammad Taher mengakui adanya isu tersebut, dia pun mengatakan “bunuh diri kalau berani melakukan hal itu” katanya, dia melanjutkan bahwa benar dia telah membagi-bagi tanah, namun tanah yang dibagi adalah bukan merupakan tanah didalam kawasan melainkan tanah miliknya sendiri yang akan dibagikan pinjam pakai red kepada warga yang ingin menanam jagung dan tidak diminta imbalan uang sepeserpun.
“tanah yang dibagi adalah tanah milik saya sendiri yang sudah pernah digarap bertahun-tahun, tanah itu saya pinjamkan kepada warga untuk menanam jagung, saya tidak meminta imbalan berupa uang, yang saya minta pagar yang mereka pakai untuk memagar lahan tersebut jangan sampai dicabut kembali dan dibawa pulang itu saja” katanya tegas. Saat ini pihaknya sedang mencari penyebar isu tersebut. (op)
20% Siswa Harus Dijempu
Hu’u – Terlepas dari tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang guru dan kepala sekolah, apa yang dilakukan Kepala Sekolah dan Guru di SMPN2 Hu’u ini patut diancungi jempol, pasalnya hampir setiap hari mereka melakukan dua pekerjaan sekaligus, selain mengajar, para guru ini harus menjemput beberapa murid yang tidak masuk sekolah dirumahnya masing-masing, bahkan ada yang harus dijemput dikebun dan pantai, ini menandakan betapa pedulinya mereka terhadap dunia pendidikan dan masadepan anak bangsa, namun lain yang dipikirkan siswa dan orang tuanya, kadang pekerjaan di ladang dan di pantai bahkan menjadi penting dari belajar disekolah sehingga menjadikan alasan orang tua siswa untuk dengan sengaja membiarkan anaknya tidak masuk sekolah.
Bukan hanya pada saat jam pelajar biasa, pada saat ujian kenaikan kelas dan ujian akhir nasionalpun kerap kali mereka tidak datag dan lagi-lagi tugas berat benjemput siswa ini harus dijalani oleh beberapa guru yang ada di SMPN2 Hu’u ini, kebiasaan ini bisa jadi mencerminkan betapa kaburnya makna pendidikan bagi sebagian orang sehingga mereka menjadi malas belajar dan lebih memilh bekerja membantu orang tua disawah dan diladang ketimbang memikirkan pendidkan mereka, padahal pendidkan saat ini sangat menentukan masa depan mereka kelak.
Ketika dijemput, berragam persoalan diutarakan siswa dan orangtuanya dan itu menjadi alasan kenapa anaknya tidak masuk sekolah, misalnya seragamnya basah dan kotor, padahal itu alasan yang sangat tidak masuk akal.
Hal ini diakui Kepala SMPN 2 Hu’u Sabran, S.Pdi ketika ditemui Koran pagi diruang kerjanya (23/09/2011) kemarin, dia mengutarakan betapa sulitnya mengajak siswa untuk datang kesekolah, bahkan alasan yang tidak masuk akalpun menjadi pilihan mereka “hapir tiap hari kita mendatangi rumah mereka, menjemput, memberikan pengarahan kepada orang tuanya, dan alasannya setiap dijemput itu-itu saja, kami tak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran mereka”.
Menghadapi persolan seperti ini, Pak Sabran sapaan akrabnya mengaku pasrah dengan tingkah laku siswanya, “mau bagai mana lagi, mau atau tidak pekerjaan tambahan menjemput siswa ini harus kami lakukan karena sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami sebagai tenaga pengajar”.
Persoalan yang dihadapi Kepsek dan guru SMPN2 Hu’u ini, merupakan persoalan yang mungkin saja kerap kali terjadi di sekolah-sekolah lain, apapun bentuknya kita patut berbangga dan berterima kasih kepada mereka, namun tentu saja ini merupakan PR dan tugas besar bagi Dinas Dikpora Kabupaten Dompu untuk mampu membuat program yang akhirnya bisa memompa dan memacu semangat, serta memberikan motifasi kepada siswa untuk mau bersekolah dan terus belajar. (op)
0 Komentar