Siswa Hu’u lakukan Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia
Hu’u – Tanggal 15 Oktober lalu diperingati sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, tentu saja di berbagai wilayah di belahan dunia ini melakukan hal yang sama, di Indonesia-pun demikian, tidak ketinggalan di Kabupaten Dompu, tepat tanggl 15 Oktober kemarin Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai sabun Sedunia di Dompu pelaksanaan kegiatannya di pusatkan di Desa Sawe Kecamatan Hu’u. acara ini selain dihadiri oleh Pejabat pemerintah kabupaten Dompu, unsur Muspika Kecamatan Hu,u dan Kepala Desa Se Kecamatan Hu’u, juga melibatkan sejumlah elemen masyarakat termasuk Kepala Sekolah, Guru dan siswa SD, SMP dan SMA.
Kegiatan yang bertajuk Cuci Tangan Pakai Sabun – Kebiasaan Kecil Berdampak Besar ini terselenggara atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Dompu, Forum Pemberantasan Kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan (FPKBABS) Kecmatan Hu’u, Air Minun dan Penyehatan Lingkungan (APL), Dinas Kesehatan, dan Plan Indonesia PU Dompu.
Meski kegiatan ini terselenggara atas kerjasamanya dengan Pemerintah Kabupaten Dompu dan Lembaga besar lainnya, namun kegiatan ini sepenuhnya didanai oleh Plan Indonesia PU Dompu, demikian yang disampaikan Ketua Panitia Nasrun Ibnu. Dalam laporannya dia mengatakan bahwa anggaran yang di sediakan Plan Indonesia PU Dompu sebesar Rp. 14.126.00 itu tidak seimbang dengan besarnya kegiatan yang telah dilaksanakan selama empat hari, namun lanjutnya pihaknya merasa bersyukur dengan anggaran yang ada bias melaksanakan kegiatan tersebut. “kegiatan ini semuanya didanai oleh Plan Indonesia PU Dompu, alhamudillah semua anggaran terpakai habis meski sebenarnya tidak seimbang dengan besarnya kegiatan ini”
Lalu kenapa peringatan hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia ini dipusatkan di Desa Sawe?
Munurut Ketua Forum Pemberantasan Kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan (FPKBABS) Kecmatan Hu’u Abdul Sikin dalam sambutannya mengatakan bahawa Desa Sawe adalah satu-satunya Desa yang ada di Kabupaten Dompu yang pertama kali mendeklarasikan telah terbebas dari Buang Air Besara (BAB) Sembarangan. Sejak dideklarasikannya tanggal 26 Agustus 2008 lalu, Desa Sawe telah terbebas dari BAB Sembarangan ini terjadi atas kerjasama semua elemen masyarakat yang ada di Desa Sawe dan dukungan penuh dari Plan Indonesia PU Dompu, dihadapan Pejabat Bupati Dompu Dia berharap agar pemerintah Daerah kabupaten Dompu dapat memberikan dukungan baik moril maupun berupa materil dan fasilitas pendukung lainnya untuk memperjuangkan Dompu kedepan agar tidak lagi saling mengkonsumsi kotoran antar sesama.
“kami butuh bantuan dana dan fasilitas pendukung lainnya agar perjuangan kami untuk menjadikan Dompu terbebas dari BAB sembarangan bias terwujud, insya Allah tahun 2012 mendatang kami punya rencana untuk mendeklarasikan Kecamatan Hu’u terbebas dari Buang Air besar Sembarangan”
Ditempat yang sama, Camat Hu’u M. Yasin, S.Sos.MM dalam sambutannya memberikan pengertian kepada masyarakat akan pentingnya hidup sehat, kerana menurutnya bahwa sehat lebih berharga dari harta apapun, diapun merasa bangga dan berterima kasih kepada Bupati Dompu, karena telah mempercayakan Kecamatan Hu’u untuk menjadi tuan rumah untuk melaksanakan kegiatan peringatan cuci tangan pakai sabun sedunia.
“kami bangga, karena dari delapan kecamatan dan sekian banyak Desa yang ada di Kabupaten Dompu ini, hanya Desa Sawe Kecamatan Hu’u yang dipercaya untuk menyelenggarakan kegiatan ini” (op)
Petani Keluhkan Harga Jagung yang Kian Menurun
Hu’u – sebagian besar petani jagung yang ada di Kecamatan Hu’u mulai mengeluhkan harga jagung yang kian menurun hingga mencapai angka Rp. 2000 rupiah/Kg, apalagi besarnya biaya produksi yang harus dikeluarakan yang tidak sesuai dengan penghasilan, hal ini tentu saja tidak sesuai dengan pernyataan beberapa pejabat yang mengatakan bahwa bertani jagung tidak membutuhkan biaya yang besar, karena tidak perlu melakukan penyiangan seperti padi dan tanaman yang lain.
Mungkin memang tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk penyiangan, karena bertani jagung mungkin tidak perlu melakukan penyiangan, namun pada saat persiapan lahan, penanaman, pemupukan sampai panen dan penanganan paska panen tentu saja membutuhkan tenaga yang banyak dan biaya yang tidak sedikit.
kondisi ini diperparah dengan adanya permainan timbangan yang diduga sengaja di dilakukan oleh beberapa oknum pembeli untuk mendapatkan keuntungan yang besar, menurut pengalaman petani, biasanya satu karung pupuk jagung yang sudah digiling beratnya bisa mencapai 100 Kg, itu artinya satu karung besar beratnya bisa mencapai 200 Kg, pada saat ditimbangpun, pembeli melakukannya dengan cepat seolah tidak transparan karena tidak diperlihatkan kepada petani penjual dan hanya menyebutkan berapa berat timbangan tersebut, parahnya lagi, penimbangan tidak dilakukan perkarung, tapi ditumpuk hingga mencapi tiga karung yang menyebabkan petani merasa kebingungan dengan cara pembeli. hal ini tentusaja membuat petani jagung merasa dirugikan.
“biasanya satu karung kecil isi 50Kg pupuk berat jagung bisa mencapai 100 Kg, namun pada saat ditimbang kok ringan yah?, kemarin saya timbang dua karung sekaligus ditumpuk beratnya hanya mencapai 220 Kg, artinya rata-rata satu karung jagung beratnya hanya 110 Kg” demikian keluh serang petani kepada Koran pagi beberapa waktu lalu.
Beberapa petanipun mulai mepertanyakan keseriusan pemerintah dalam membeli hasil panen jagung mereka seperti janji para petinggi pemerintah ketika mendeklarasikan program pijar beberapa waktu lalu, informasi yang kami himpun, saat itu pemerintah telah menyiapkan perusahaan daerah yang akan membeli hasil panen jagung dengan timbangan yang pas, namun yang terjadi di lapangan malah berbeda dengan yang diharapakan, lantas kemana perginya perusda tersebut.?
“katanya ada perusahaan Daerah yang akan membeli hasil jagung” ucap petani lain
Merasa bertani jagung bak besar pasak daripada tiang, tidak sedikit dari petani yang ingin beralih menanam kacang hijau, mereka menilai disamping harnganya yang cukup menjanjikan, pemeliharaan sampai penanganan paska panenpun tidak membutuhkan tenaga dan biaya yang besar.
“kalau musim kering begini lebih baik menanam kacang hijau, lebih mudah dan biayanya sedikit, kita hanya tebar benih, tunggu berbunga, disemprot dan tinggal tunggu panen”
Beberapa petani berharap, kedepan pemerintah Kabupaten Dompu lebih serius menangani dan memberli hasil panen jangung mereka, dengan harga yang masuk akal dan timbangan yang pas,
“harapan kami pemerintah melalui Perusahaan Daerah lebih serius membeli hasil panen kami dengan harga yang wajar dan timbangan yang pas, bila perlu menggunakan timbangan elektronik, sehingga tidak adalagi petani yang mengeluh dan merasa dirugikan” demikian ucap seorang petani yang ditemui Koran pagi beberapa waktu lalu. (op)
0 Komentar