Petani Jagung Terancam Gagal Panen
HU’U – Beberapa petani Jagung yanga ada di Desa Persiapan Marada Kecamatan Hu’u terancam gagal panen, pasalnya persediaan air untuk mengairi lahan tersebut tidak cukup untuk mengairi sejumlah lahan petani, sehingga terjadi pembagian air yang tidak merata akibatnya beberapa hektar tanaman jagung yang sedang berbuah menjadi layu dan kering. ironisnya, tidak ada upaya pemerintah desa setempat untuk mengatasi masalah kekeringan yang dihadapi petani saat ini.
Hal ini di akui beberapa petani jagung, kebanyakan mereka mengungkapkan ekecewaannya karena tidak bisa mengairi lahan mereka dengan baik, apalagi petugas pembagi air tidak mampu bekerja secara maksimal, “kami kecewa, udah banyak biaya yang dikeluarkan, namun hasilnya kayak begini, lihat saja jagung kami kayak terbakar karena tidak ada air” ucap salah seorang petani.
Hal ini tidak sejalan dengan cita-cita awal ketika dikeluarkannya rencana pemekaran Desa Persiapan Marada yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, kenyataannya sampai saat ini belum ada perubahan yang begitu berarti yang membawa kepada kesejahteraan masyarakat, parahnya sampai saat ini belum ada upaya pemerintah Desa setempat untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi warganya.
Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Desa Persiapan Marada A. Malik mengakui terjadinya kekeringan yang mengakibatkan rusaknya sebagian tanaman jagung petani, ini dikarenakan persediaan air yang sangat terbatas, sehingga terjadi pembagian air yang tidak merata,namun dia mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mengupayakan solusi terbaik salah satunya adalah rencana pembangunan dam Kalate sadundu. “kami sedang mengupayakannya, mudah-mudahan tahun mendatang Dam Kalate Sadudndu ini sudah muali di kerjakan”(op)
Gedung MTS Mifyakhul Jannah memprihatinkan
Hu’u - Sejak didirikannya 10 tahun lalu, MTS Miftakhul Jannah hingga saat ini masih eksis menjalankan aktifitas belajar mengajarnya layaknya sekolah – sekolah lain pada umumnya, tak heran hingga kini sudah banyak lulusan yang dihasilkan dan mampu bersaing dengan lulusan dari sekolah-sekolah negeri lainnya. Namun selama sepuluh tahun perjalanannya berbagai persoalan kerap kali dihadapi, namun lantas tidak membuat sekolah ini patah semangat dan berhenti di tengah jalan.
Meski hanya menggunakan bangunan sederhana dengan dinding bedek yang terlihat mulai reot dan atap seng yang membuat ruangan di dalam kelas sekolah ini semakin terasa panas, tidak menyurutkan semangat dan minat belajar siswa, ini terbukti dengan berbagai prestasi yang telah diraih oleh beberapa siswa di sekolah ini, meski bukan dalam bentuk penghargaan namun dibeberapa kegiatan keagamaan beberapa siswa di sekolah ini mampu memberikan tausiyah yang luar biasa. Pada bulan ramadhan kemarin misalnya, beberapa siswa di sekolah ini telah mampu dan dapat menunjukan keberanian dan kecerdasan intelektualnya dengan memberikan tausiyah dalam perjalanan safari ramadhannya di beberapa desa di kecamatan hu’u,
“kalau sudah agak siang, kita kepanasan maklum atapnya dari seng, tapi kita tetap semangat untuk belajar” demikian ucap seorang siswa kepada Koran Pagi beberapa waktu lalu
Sanyangnya prestasi yang diraih siswa di sekolah ini tidak sesuai dengan sarana dan prasarana yang dimilki, terbukti dengan fisik bangunan yang sampai saat ini hanya berupa bangunan kayu dan berdidinding bedek, ironisnya, sampai saat ini pula belum ada bantuan dari pemerintah pusat, propinsi maupun Daerah untuk perbaikan atau mungkin rehabilitasi total fisik bangunan, meski tidak dipungkiri bahwa bantuan untuk operasional sekolah tetap diterima.
Padat tahun 2005 – 2006 sekolah ini hanya mendapat dana operasional dari pemerintah propinsi sebesar Rp. 10 juta rupiah/tahun dan untuk mendapatkan anggaran itu harus mengajukan permohonan berupa proposal di setiap tahunnya Sementara dari pemerintah daerah hanya mendapatkan bantuan berupa tunjangan untuk tenaga GTT.
Demikian diungkapakna Kepala MTS Miftakhul Jannah Johar, S.Ag ketika ditemui Koran Pagi di rumahnya beberapa waktu lalu, dia mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah untuk perbaikan atau rehabilitasi bangunan gedung sekolah, namun ia pun mengaku memang pernah ada bantuan dari propinsi, dan saat ini seumber pembiayaan MTS hanya dari dana BOS. “kalau berupa fisik bangunan belum ada, namun besar harapan kami agar kiranya sekolah ini dapat dibantu oleh pemerintah, baik pusat, propinsi maupun Kabupaten, mengingat semakin banyak peminatnya dan semangat belajar siswa yang sangat besar” (op)
0 Komentar