Pestisida kimia masih menempati posisi teratas di kalangan petani Indonesia saat ini, padahal, bahan aktif yang terkandung dalam pestisida kimia ini bukan tidak mungkin akan menjadi racun bagi siapa saja yang mengkonsumai hasil pertanian, bukan hanya itu, lingkungan akan menjadi sarasan utama atas penggunaan bahan ini, namun sebenarnya tidak bisa dipungkiri, bahwa banyak petani yang bukan tidak tahu bahkan lebih paham terhadapa efek yang dihasilkan oleh berbagai bahan kimia yang terkandung didalam pestisida, namun istilah “Lebih Praktis” mematahkan semua kekhawatiran akan bahaya atau efek samping dari penggunaan bahan tersebut.
Beberapa tahun terakhir ini, berbagai jenis pestisida kimia dengan berbagai macam merk dagang seakan menjamur di pasaran, ironisnya semua jenis pestisida ini menkglaim dirinya sebagai “Sahabat Petani” yang mampu memberikan solusi terbaik terhadap persoalan yang dihadapi petani, baik, persoalan gulma, hama, penyakit, serangga maupun persoalan – persoalan sejenisnya yang dianggap merugikan petani. Petanipun seakan tidak mau tahu apa yang terkandung didalamnya dan bagaimana cara kerja bahan tersebut.
Padahal kalu di teliti secara mendalam bahwa penggunaan pestisida kimia yang berlebihan bukan tidak mungkin akan meninggalka efek yang sangat buruk, pada lahan pertanian misalnya, aktifitas dari bahan aktif yang terkandung dalam perstisida malah akan berakibat pada rusaknya tekstur tanah, menurunnya kadar ph tanah, semakin berkurangnya kandungan hara tanah bahkan lebih parah akan merusak degradasi tanah. Demikian pula efek buruk yang terjadi pada hasil panen, residu obat tersebut akan meninggalkan toksin/racun yang sangat berbahaya yang berakibat pada timbulnya berbagai macam jenis penyakit pada manusia. Tidak heran jika beberapa hasil penelitian mengatakan bahwa sekitar 65% racun dari efek penggunaan pestisida kimi terkandung dalam tubuh manusia.
Kalau petani kita mau belajar lebih banyak lagi tentang karakter hama, penyakit dan gulma, maka penggunaan pestisida kimia mungkin bisa di minimalisir, karena semakin sering kita menggunakan bahan kimia tersebut untuk menanggulangi hama, penyakit dan gulma maka semakin keballah mereka terhadap obat-obatan tersebut dan malah akan menciptakan hama dan penyakit baru.

Dalam duni pertanian, ada yang disebut dengan musuh alami, musuh alami ini berfungsi untuk membunuh serangga yang menjadi pengganggu tanaman, namun sayangnya petani kita tidak mengenal istilah musuh alami ataupun hewan/serangga apa saja yang merupakan musuh alami. Pengamatan kami dilapangan menunjukan hampir 95% petani di Kab. Dompu tidak mengenal yang namanya musuh alami, sehingga ketika mereka melihat serangga yang bertebaran dilahannya maka mereka menganggap itu adalah serangga pengganggu dan satu-satunya solusi yang praktis menurut petani adalah melakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia.
Tidak bisa dipungkiri memang bahwa dinegara kita hampir 90% petani masing menggunakan pestidisa kimia, dan diakui merupakan konsumen pestisida terbesar dunia, ini terlihat jelas dengan semakin banyaknya perusahaan – perusahaan kimia yang memproduksi pestisida dengan berbagai merek dagang dan fungsi yang berbeda-beda, dan ini adalah salah satu penyebab mengapa petani kita menjadi konsumtif terhadap pestisida kimia, (meski ada beberapa petani yang sudah mulai beralih ke pertanian alami). Beda dengan Negara-negara lain yang sudah mulai meninggalkan bahan kimian dan beralih ke yang alami.
Di Pakistan misalnya, petaninya sudah mulai beralih ke pertanian alamiah, yang 0% menggunakan baham kimia, meski mendapatkan hasil panen yang sedikit mereka rela asalkan mendapatkan hasil panen yang bebas dari residu bahan kimia.
Pemahaman seperti inilah yang mungkin harus di terapkan kepada petani indosesia, supaya tidak begitu konsumtif terhadap bahan kimia, sehingga mendapatkan hasil panen yang terbebas dari bahan kimi, meski itu sangat sulit dan butuh pengorbanan, paling tidak pemahaman itu bisa mengurangi penggunaan pestisida kimia.