Oleh:
Dede Sulaeman, ST, M.Si
Pemanfaatan kotoran ternak menjadi energi biasa disebut dengan pemanfaatan biogas.
Berdasarkan definisinya, biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi bahan organik
dalam kondisi an-aerobik. Dalam proses dekomposisi tersebut dihasilkan beragam gas yaitu metan
(CH4) sebanyak 65%, karbondioksida (CO2) sebanyak 33% dan gas lainnya seperti N2, O2, H2, H2S
sebanyak 2%.
Gas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi dari proses tersebut adalah gas metan.
Pemanfaatannya dilakukan dengan cara dibakar langsung (seperti halnya gas LPG) atau sebagai
bahan bakar generator listrik. Saat ini biogas dari kotoran ternak menjadi alternatif penyediaan energi
di pedesaan karena semakin mahal dan langkanya minyak tanah serta kayu bakar.
Untuk memanfaatkan kotoran ternak menjadi biogas, diperlukan beberapa syarat yang terkait
dengan aspek teknis, infrastruktur, manajemen dan sumber daya manusia. Bila faktor tersebut dapat
dipenuhi, maka pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas sebagai penyediaan energi dipedesaan
dapat berjalan dengan optimal.
Terdapat sepuluh faktor yang dapat mempengaruhi optimasi pemanfaatan kotoran ternak
menjadi biogas yaitu::
1. Ketersediaan ternak
Jenis, jumlah dan sebaran ternak di suatu daerah dapat menjadi potensi bagi pengembangan
biogas. Hal ini karena biogas dijalankan dengan memanfaatkan kotoran ternak.Kotoran ternak
yang dapat diproses menjadi biogas berasal dari ternak ruminansia dan non ruminansia seperti
sapi potong, sapi perah dan babi; serta unggas.
Jenis ternak mempengaruhi jumlah kotoran yang dihasilkannya. Untuk menjalankan biogas skala
individual atau rumah tangga diperlukan kotoran ternak dari 3 ekor sapi, atau 7 ekor babi, atau 400
ekor ayam.
1
2. Kepemilikan Ternak
Jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak menjadi dasar pemilihan jenis dan kapasitas biogas yang
dapat digunakan. Saat ini biogas kapasitas rumah tangga terkecil dapat dijalankan dengan kotoran
ternak yang berasal dari 3 ekor sapi atau 7 ekor babi atau 400 ekor ayam. Bila ternak yang dimiliki
lebih dari jumlah tersebut, maka dapat dipilihkan biogas dengan kapasitas yang lebih besar
(berbahan fiber atau semen) atau beberapa biogas skala rumah tangga.
3. Pola Pemeliharaan Ternak
Ketersediaan kotoran ternak perlu dijaga agar biogas dapat berfungsi optimal. Kotoran ternak lebih
mudah didapatkan bila ternak dipelihara dengan cara dikandangkan dibandingkan dengan cara
digembalakan.
4. Ketersediaan Lahan
Untuk membangun biogas diperlukan lahan disekitar kandang yang luasannya bergantung pada
jenis dan kapasitas biogas. Lahan yang dibutuhkan untuk membangun biogas skala terkecil (skala
rumah tangga) adalah 14 m2 (7m x 2m). Sedangkan skala komunal terkecil membutuhkan lahan
sebesar 40m2 (8m x 5m).
5. Tenaga Kerja
Untuk mengoperasikan biogas diperlukan tenaga kerja yang berasal dari peternak/pengelola itu
sendiri. Hal ini penting mengingat biogas dapat berfungsi optimal bila pengisian kotoran ke dalam
reaktor dilakukan dengan baik serta dilakukan perawatan peralatannya.
Banyak kasus mengenai tidak beroperasinya atau tidak optimalnya biogas disebabkan karena:
pertama, tidak adanya tenaga kerja yang menangani unit tersebut; kedua, peternak/pengelola tidak
memiliki waktu untuk melakukan pengisian kotoran karena memiliki pekerjaan lain selain
memelihara ternak.
6. Manajemen Limbah/Kotoran
Manajemen limbah/kotoran terkait dengan penentuan komposisi padat cair kotoran ternak yang
sesuai untuk menghasilkan biogas, frekuensi pemasukan kotoran, dan pengangkutan atau
pengaliran kotoran ternak ke dalam raktor.
Bahan baku (raw material) reaktor biogas adalah kotoran ternak yang komposisi padat cairnya
sesuai yaitu 1 berbanding 3. Pada peternakan sapi perah komposisi padat cair kotoran ternak
2
biasanya telah sesuai, namun pada peternakan sapi potong perlu penambahan air agar
komposisinya menjadi sesuai.
Frekuensi pemasukan kotoran dilakukan secara berkala setiap hari atau setiap 2 hari sekali
tergantung dari jumlah kotoran yang tersedia dan sarana penunjang yang dimiliki. Pemasukan
kotoran ini dapat dilakukan secara manual dengan cara diangkut atau melalui saluran.
7. Kebutuhan Energi
Pengelolaan kotoran ternak melalui proses reaktor an-aerobik akan menghasilkan gas yang dapat
digunakan sebagai energi. Dengan demikian, kebutuhan peternak akan energi dari sumber biogas
harus menjadi salah satu faktor yang utama. Hal ini mengingat, bila energi lain berupa listrik,
minyak tanah atau kayu bakar mudah, murah dan tersedia dengan cukup di lingkungan peternak,
maka energi yang bersumber dari biogas tidak menarik untuk dimanfaatkan.
Bila energi dari sumber lain tersedia, peternak dapat diarahkan untuk mengolah kotoran ternaknya
menjadi kompos atau kompos cacing (kascing).
8. Jarak (kandang-reaktor biogas-rumah)
Energi yang dihasilkan dari reaktor biogas dapat dimanfaatkan untuk memasak, menyalakan
petromak, menjalankan generator listrik, mesin penghangat telur/ungas dll. Selain itu air panas
yang dihasilkan dapat digunakan untuk proses sanitasi sapi perah.
Pemanfaatan energi ini dapat optimal bila jarak antara kandang ternak, reaktor biogas dan rumah
peternak tidak telampau jauh dan masih memungkinkan dijangkau instalasi penyaluran biogas.
Karena secara umum pemanfaatan energi biogas dilakukan di rumah peternak baik untuk
memasak dan keperluan lainnya.
9. Pengelolaan Hasil Samping Biogas
Pengelolaan hasil samping biogas ditujukan untuk memanfaatkannya menjadi pupuk cair atau
pupuk padat (kompos). Pengeolahannya relatif sederhana yaitu untuk pupuk cair dilakukan
fermentasi dengan penambahan bioaktivator agar unsur haranya dapat lebih baik, sedangkan
untuk membuat pupuk kompos hasil samping biogas perlu dikurangi kandungan airnya dengan
cara diendapkan, disaring atau dijemur.
Pupuk yang dihasilkan tersebut dapat digunakan sendiri atau dijual kepada kelompok tani setempat
dan menjadi sumber tambahan pandapatan bagi peternak.
3
10. Sarana Pendukung
Sarana pendukung dalam pemanfaatan biogas terdiri dari saluran air/drainase, air dan peralatan
kerja. Sarana ini dapat mempermudah operasional dan perawatan instalasi biogas. Saluran air
dapat digunakan untuk mengalirkan kotoran ternak dari kandang ke reaktor biogas sehingga
kotoran tidak perlu diangkut secara manual. Air digunakan untuk membersihkan kandang ternak
dan juga digunakan untuk membuat komposisi padat cair kotoran ternak yang sesuai. Sedangkan
peralatan kerja digunakan untuk mempermudah/meringankan pekerjaan/perawatan instalasi
biogas.
Selain sepuluh faktor di atas, kemauan peternak/pelaku untuk, menjalankan instalasi biogas dan
merawatnya serta memanfaatkan energi biogas menjadi modal utama dalam pemanfaatan kotoran
ternak menjadi biogas. Tanpa adanya kemauan peternak untuk secara aktif mengoptimalkan biogas,
maka faktor-faktor lain tidak akan cukum membantu dalam optimalisasi pemanfaatan biogas.
-----------------------
0 Komentar